Assalamualaikum Ayah Bunda...
Adapun kebiasaan-kebiasaan yang sering saya lakukan untuk menstimulasi niat belajarnya, seperti :
✔️sering mengingatkan beragam huruf dari bentuk apapun itu.
✔️seperti tidak berlatih padahal sedang berlatih. Karena anak-anak lenih suka bermain.
✔️sering-sering mengenalkan huruf-huruf abjad kecil. Huruf kapitalnya bisa diselang-seling
✔️akan lebih baik melatih anak membaca tanpa mengeja. Tergantung kesulitan anak.
✔️anak-anak speech delay biasanya senang aktif, jadi saya sering memberikan permainan edukatif, apa yang sedang ia pelajari maka itulah yang sering ditunjukkan.
✔️to be creative person.
✔️tidak menargetkan waktu belajar. Ikuti mood dan kemampuannya. Biasanya dalam waktu 45 menit anak sudah mulai jenuh.
✔️tidak cepat memarahi jika anak salah (jujur ini part yang agak sulit ya, tapi harus bisa dikendalikan. Karena ini benar-benar berpengaruh).
Udah berapa lama ya saya nggak nulis blog? (haha) automood kalo saya bilang sih. Ini lagi terinspirasi aja, bengong sendirian sambil liat-liat album vidio di galeri handphone. Ada salah satu vidio anak saya, Kiya, yang lagi latihan mengeja. Waktu itu saya sengaja bikin vidio itu untuk saya kirim ke Oma Opa nya Kiya di Bandung, itung-itung obat kangen mereka. Jadi teringatlah saya tentang bagaimana awalnya mengenalkan huruf-huruf pada anak saya yang berlanjut sampai saat ini Kiya bisa berlatih mengeja.
Saya terbilang menyesal sih, waktu tahun kemaren nggak buru-buru masukin Kiya ke TK. Alhasil ketika tahun ini daftar masuk sekolah dengan usia Kiya yang sudah memasuki 5,5 tahun, dia harus langsung masuk ke kelas TK-B yang notabene teman-teman sekelasnya sudah jauh lebih dulu mengenal huruf dan memang nggak banyak juga yang sudah bisa mengeja. Saya jadi kepikiran juga bagaimana mengarahkan Kiya untuk bisa menyusul ketertinggalannya. Tapi untungnya, sudah lama saya sering kenalkan macam-macam huruf, angka, berbagai warna dirumah, sampai dia hafal walau dengan cara random test, dan kebetulan Kiya ini termasuk anak yang lumayan tajam ingatannya. Bahkan saya merasa nggak terlalu sulit mengajarkan & mengarahkan Kiya dalam belajar. Wallahualam mungkin pas kebetulan mood Kiyanya juga bagus kali yakk (hehe), kadang anak kan mood-moodan.
Nah, Kiya mulai masuk sekolah di pertengahan Agustus, di kelasnya dia termasuk anak baru. Karena anak-anak yang lain berasal dari jenjang di tahun sebelumnya. Untuk beberapa Minggu saya masih suka memantau bagaimana keadaan Kiya dikelas. Selama saya perhatikan Mungkin ada beberapa metode pengajaran di kelas yang tidak sesuai ekspektasi saya pribadi. Ada beberapa pengajaran dari guru Kiya dikelas yang diluar kebiasaan waktu saya dulu belajar dikelas. Contohnya seperti, huruf 'E' yang dibaca 'eu', sedangkan awal saya mengajarkan Kiya huruf 'E' tetap dibaca 'E'. Contoh lainnya adalah ketika metode mengeja guru Kiya dikelas, yang menurut saya pribadi terlalu rumit. Seperti kata MEJA (guru mengeja: M-E-J-A=MEJA, M tambah E = ME, J tambah A =JA, ME tambah JA jadi MEJA). Sedangkan pola mengeja yang saya ajarkan kepada anak, contohnya cukup seperti ini (M-E=ME, J-A=JA, jadi MEJA). Karena sebelum mengeja ke empat huruf, terlebih dahulu saya ajarkan pola mengeja dua huruf sampai Kiya fasih. Nah disinilah kendalanya. Yang saya takutkan, anak saya menjadi bingung dikelas nantinya ketika belajar mengeja. Karena pola yang diajarkan dikelas dan dirumah lumayan berbeda. Apalagi, Kiya ini termasuk anak yang sempat speech delay dimasa perkembangannya beberapa tahun yang lalu, tahun ini adalah masa-masa kiya menyerap, meniru, dalam kata-kata dan kalimat. Sehingga kalau saya perhatikan dikelas ketika latihan mengeja/membaca, Kiya nampak tak menghiraukan bahkan kadang kurang paham.
Diluar sana masih hangat perbincangan kontroversi belajar membaca/mengeja usia dini. Karena hal tersebut dikhawatirkan akan menjadi beban bagi anak sehingga anak akan takut atau tidak senang 'Belajar'. Sebenarnya saya setuju. Tapi saya terlanjur membiasakan Kiya mengeja. Yang sebenarnya berlatih membaca tanpa mengeja lebih efektif. Tapi semua kembali pada kemampuan dan kesulitan si anak. Jangan sampai kita membebani anak untuk mencapai hasil.
Diluar sana masih hangat perbincangan kontroversi belajar membaca/mengeja usia dini. Karena hal tersebut dikhawatirkan akan menjadi beban bagi anak sehingga anak akan takut atau tidak senang 'Belajar'. Sebenarnya saya setuju. Tapi saya terlanjur membiasakan Kiya mengeja. Yang sebenarnya berlatih membaca tanpa mengeja lebih efektif. Tapi semua kembali pada kemampuan dan kesulitan si anak. Jangan sampai kita membebani anak untuk mencapai hasil.
Tapi saya kembali berpikir, dan berulang kali berpikir, perbedaan metode setiap daerah itu selalu mungkin kita temui. Apalagi saya merantau di pulau kecil seperti ini yang notabene penduduk aslinya dalam berkomunikasi masih tidak lepas dari bahasa daerahnya. Jika dibandingkan dengan tempat asal saya memang jauh berbeda. Artinya saya tidak bisa memaksakan keadaan untuk menuruti keinginan. Jadi saya coba hilangkan dulu rasa cemas lalu membiarkan, selanjutnya saya tetap memberikan arahan belajar kepada anak saya dengan cara yang biasa saya lakukan dirumah. Dan SETIAP HARI. Karena Kiya memang harus mengejar itu semua. Tahu kan sekarang masuk SD saja anak harus di tes bisa membaca,minimal mengeja dengan benar. Toh, bagi saya sejauh ini Kiya dapat mengeja, berhitung, dan lain sebagainya sebagian besar sebetulnya dari latihan dirumah. Setiap hari selepas maghrib atau siang hari sehabis makan siang saya selalu minta Kiya untuk buka tasnya, lalu saya ajak latihan, dan saya nggak memaksa anak jika dia tidak mau. Waktu belajar Kiya pun nggak pernah lama. Terkadang 15 menit selesai, terkadang 30 menit selesai, kadang juga bisa sampai 45 menit selesai. Semua tergantung kemampuan anak. Toh, belajar itu tidak harus fokus dengan buku dan pensil, kan?. Ketika saya sedang memasak dan hendak membuka bungkusan bumbu pun saya kerap menanyakan Kiya ada huruf apa saja dalam tulisan pada bungkusan. Saya ukur kemampuan anak. Dan saya turunkan angan-angan saya (ego).
Adapun kebiasaan-kebiasaan yang sering saya lakukan untuk menstimulasi niat belajarnya, seperti :
✔️sering mengingatkan beragam huruf dari bentuk apapun itu.
✔️seperti tidak berlatih padahal sedang berlatih. Karena anak-anak lenih suka bermain.
✔️sering-sering mengenalkan huruf-huruf abjad kecil. Huruf kapitalnya bisa diselang-seling
✔️akan lebih baik melatih anak membaca tanpa mengeja. Tergantung kesulitan anak.
✔️anak-anak speech delay biasanya senang aktif, jadi saya sering memberikan permainan edukatif, apa yang sedang ia pelajari maka itulah yang sering ditunjukkan.
✔️to be creative person.
✔️tidak menargetkan waktu belajar. Ikuti mood dan kemampuannya. Biasanya dalam waktu 45 menit anak sudah mulai jenuh.
✔️tidak cepat memarahi jika anak salah (jujur ini part yang agak sulit ya, tapi harus bisa dikendalikan. Karena ini benar-benar berpengaruh).
Saya pikir setiap manusia yang diketahui kekurangannya akan ada sisi kelebihannya. Saya menggunakan kesempatan ini untuk mem-pull-up Kiya. Saya merasa tidak kesulitan banyak dalam memberikan pola-pola belajar untuk Kiya. Dirumah saja, metode cara ayahnya mengajarkan Kiya berbeda dengan saya. Saya ingin memberikan pola ajar yg tidak rumit dan nyaman untuk Kiya. Dan anak saya menerima itu, buktinya jika dilihat dari sisi akademis Kiya mampu mengejar ketertinggalannya dalam kurun waktu tiga bulan. Dan saya optimis saya akan berpeluang dan saya sumber terbesar bagi anak saya, Kiya.
Komentar
Posting Komentar