Langsung ke konten utama

MENEROPONG PERKEMBANGAN ANAK DI MASA EMASNYA

Assalamualaikum...
Lama nih saya gak nge-blog lagi, untungnya hari ini cuaca panas jadi bikin gak kemana-mana alias mager,  dari pada bengong mending curcol sekalian sharing deh disini.

Masih seputar perkembangan si Kiya putri kecil saya, dan masih dengan harapan-harapan tinggi seorang ibu yang mengharuskan bermentalkan baja buat hadepin itu semua. Bukannya baperan,  tapi wajarlah mengawali jadi seorang ibu dengan mengetahui anaknya mengalami speech delay, sementara kita tahu komunikasi itu adalah utama dan kunci perkembangan untuk anak juga di masanya yang akan datang bikin saya ekstra mikir, ekstra action juga, ya nggak, bu, pak?.

Jadi singkat cerita, waktu itu saya akhirnya memutuskan untuk pulang ke Bandung. Dan alhamdulillah, setahun berada disana banyak perubahan pada anak saya. Waktu itu kondisinya saya kembali mengajar ke profesi lama. Saya sering menitipkan Kiya pada mertua saya atau orang tua saya. Mungkin dari situ Kiya banyak berkomunikasi dan bertemu orang-orang khususnya keluarga. Disana, dia bisa bermain bebas  kemana saja. Apalagi anak diusianya mulai banyak meniru. Lambat laun banyak kosakata yang bisa kiya ikuti. Diawali dengan meniru perkata, lalu kelamaan dia bisa sebut dua kata,  tiga kata. Saat itu anak saya mulai menginjak usia 3,5 tahun menuju 4 tahun.

Waktu itu saya mikir, apa yang saya yakini itu benar terjadi.  Bukan berarti saya so yakin. Tapi lebih ke... selama ini saya sudah berusaha yang terbaik,  dan selama anak saya bisa menunjukkan perubahan se......kecil apapun, saya yakin akan ada perubahan-perubahan lainnya. Dan hal itu terbukti walaaaau Kiya belum menyamai dengam anak-anak seusianya.  Namun perubahan yang nampak itu sangat berarti bagi saya. Dan juga, pelajaran yang bisa saya ambil adalah, segala sesuatu yang dipaksakan itu tidak akan pernah singkron dengan yang kita harapkan. Contoh kecilnya saja, dari perubahan-perubahan pada anak saya itu saya cukup yakin bahwa semua akan ada masanya. Sangat percuma walau saya memaksakan diri untuk menggojlok stimulasi-stimulasi itu demi mengejar target karena mengingat usianya yang seharusnya bla-bla-bla. Contoh lain adalah, ketika Kiya masih belum bisa berhenti menyusui di usianya yg sudah lebih dari 2 tahun. Ketika itu saya memaksakan kehendak untuk melepas Kiya agar berhenti menyusui, segala cara sudah saya coba mulai dengan memberikan lipstik pada puting payudara saya,  lalu sari daun samiloto,  batang brotowali pun turut dicoba,  tapi apa yang didapat? Anak saya kala itu mengamuk dan menangis sejadi-jadinya, dibujuk dan dirayu pun udah gak bisa sama sekali, gak tega rasanya ketika melihat matanya memerah,  mulutnya mengap-mangap berharap mendapati air susu Ibunya. Karena saya gak tega akhirnya saya urungkan. Di bulan berikutnya, ketika saya kembali mencoba mengoleskan getah batang brotowali pada puting,  saat itu juga Kiya enggan menyusui lagi tanpa susah payah 😄.  Mungkin jika sudah waktunya berhenti dia akan berhenti sendiri tanpa bersusah payah atau mengamuk-ngamuk ria seperti sebelumnya.

Dari situ saya yakin, setiap anak terlahir berbeda,  walaupun tidak ada faktor genetika. Dan setiap anak akan membawa perkembangan yang berbeda pula. Usia Kiya sekarang sudah 4 tahun 10 bulan. Sudah banyak kosakata yang keluar, sedikit demi sedikit sudah bisa diajak mengobrol, bahkan Kiya sudah hafal semua huruf,  warna,  dan angka-angka yang kerap saya beritahu. Alhamdulillah. Saya yakin perubahan-perubahan itu akan terus berkembaaaaang,  karena kuncinya kita yang pegang lalu biarkan ia masuk dan berjalan. (hiks) kalau mengingat masa-masa itu saya jadi terharu 😣😖



Komentar