Langsung ke konten utama

MENGENALKAN SEKOLAH USIA DINI UNTUK KIYA

Hallo Parents... Hallo Mams...

Seperti biasa, saya ingin mulai sharing lagi mengenai perkembangan Kiya pada saat itu,  semoga mams sudah membaca postingan saya sebelumnya.

Kalau di postingan saya sebelumnya membeberkan kesulitan Kiya dalam mengucapkan kata-kata, di postingan kali ini saya ingin menceritakan alasan saya ketika memutuskan untuk mendaftarkan Kiya masuk sekolah Playgroup (Kelompok Bermain).

Begitu tahu bahwa anak saya agak telat belajar berbicara, saya berpikir mungkin dengan membaurkan Kiya dengan teman seusianya di sekolah palygroup akan lebih mudah untuk perkembangannya. Dan suami pun setuju-setuju saja. Sempat bolak balik cari-cari sekolah palygroup di Kotabaru yang sekiranya cocok untuk Kiya, sampai akhirnya saya dan suami menemukan salah satu sekolah playgroup yg merangkap terdapat TK, Les calistung bahkan untuk menitipkan anak. Saya coba ngobrol-ngobrol disana sebelum akhirnya mendaftar dengan tiga hari masa percobaan. Awalnya sulit, bahkan sangat sulit bagi saya untuk membujuk Kiya mau masuk ke area berkumpul anak-anak. Saat itu Kiya merasa takut bahkan sampai nangis dan teriak-teriak ingin keluar seperti minta pulang. Tapi karena tekad saya bulat akan memasukkan anak ke playgroup mengingat ia sangat butuh pergaulan, saya paksakan mendaftar keesokannya. Sewaktu itu saya berpikir masalah kesulitan Kiya untuk berbaur dengan teman-temannya akan bisa ditangani pelan-pelan,  saya yakin Kiya perlahan akan beradaptasi dan menunjukkan perubahan.

Dan untungnya tak hanya saya yang mengalami hal itu, salah satu orang tua yang baru saja mencoba memasukkan anaknya ke sekolah tersebut mengalami hal serupa, yang kini menjadi teman saya,  sebut saja Mama Erza.  Senangnya saya memiliki teman yang senasib,  saya sering tukar pikiran dengan Mama Erza terkait speech delay pada anak-anak. Namun kasus speech delay yang terjadi pada Kiya dan Erza jelas ada beberapa yang berbeda. Contoh kecilnya, di sekolah, Kiya tidak bisa diam bertahan lama untuk mengikuti kegiatan yang diberikan guru, seperti meronce mainan kayu dengan benang, melukis,  menempel kertas,  pokoknya kegiatan yang berkaitan dengan motorik halus. Kerap kali, Kiya mengamuk meminta bermain dihalaman sekolah,  seperti bolak balik menaiki tangga dan bermain perosotan berulang-ulang (motorik kasar). Berbeda dengan Erza yang masih bisa dibujuk mamanya untuk duduk diam dan mengikuti kegiatan yang diberikan guru, walau kadang Erza kerap terbawa ngamuk juga setelah melihat anak saya yang terlebih dahulu menangis dan mengamuk minta main keluar ruangan. Disitu kadang saya merasa tidak enak (hiks). Namun masih wajar jika tantrum anak kadang keluar gak karuan. Tinggal bagaimana kita menyikapinya dengan bijak. Kadang kalau saya sudah merasa capek bisa emosi juga. Menahan kesal dan marah sendiri, karena tidak ingin saya sampai ringan tangan terhadap anak.  Semoga mams diluar sana bisa lebih sabar dari saya.

Oke, sebulan sudah Kiya bersekolah disana, untuk perkembangan kosakatanya belum ada peningkatan yang signifikan, tapi setidaknya sedikit demi sedikit Kiya sudah mengenal adanya teman (bersosialisasi), melihat cara teman-temannya berkomunikasi, bagaimana mengikuti peraturan yang diberikan gurunya,  dan sebagainya. Mungkin akan sangat lama untuk melihat perubahan baik yang signifikan, tapi dari awal saya sudah memiliki keyakinan bahwa lambat laun Kiya akan bisa mengejar keterlambatan itu di normal usianya. InshaAllah, aamiin.

Walau begitu saya tidak akan putus asa untuk terus menstimulasi Kiya agar beradaptasi di sekolahnya untuk beberapa kurun waktu kedepan. Yang saya sayangkan adalah, bahasa yang dipakai guru untuk berkomunikasi disekolah lebih dominan memakai bahasa daerah mereka. Bukannya bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantarnya. Saya sempat berpikir heran, mengapa masih ada sekolah yang memakai bahasa pengantar bahasa daerah. Sedangkan di tempat asal saya saja sekolah-sekolah sejak dulu para pengajarnya memakai bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, walau kami suku sunda,  tetapi disekolah,  guru-guru tidak memakai bahasa daerah kepada murid-murid dikelas ketika berkomunikasi. Hal itu yang menyayangkan bagi saya. Sementara Kiya sedang dalam masa stimulasi belajar bercakap,  mengenal kosakata. Saya takut anak menjadi bingung dalam menyerap informasi yang dia dengar dan dia lihat. Yang saya inginkan,  guru-guru disekolah Kiya dulu seharusnya agak peka untuk hal tersebut karena disekolah terdapat beberapa murid dari berbagai daerah. Namun apa daya, saya kembali ingat akan tujuan saya,  yang terpenting Kiya bisa belajar bersosialisasi saja dahulu,  ketika itu.

Wah, kalau saya tulis semua nggak akan cukup waktunya, Mams...

Bersambung dulu ya, tunggu di postingan berikutnya 😁 bye 🖐️

Komentar