Langsung ke konten utama

KETIKA MENYADARI ANAK SPEECH DELAY

Assalamualaikum,
Hai parents...
Hai Moms...
Ini postingan blog perdana saya
Kepengeeen banget nge-share semua keluh kesah dari pengalaman keseharian saya disini.
Terutama hal pertama yang ingin saya share yaitu tentang Khaira, putri pertama saya. Karena banyak kisah selama perjalanan usianya. Dari mulai Kiya,  begitu panggilan putri saya, berusia tiga bulan yang sudah saya bawa merantau ke luar pulau mengikuti suami bekerja.

Suami saya adalah seorang karyawan swasta di salah satu perusahaan batu bara. Saya dan suami asli orang Bandung,  orang sunda. Alasan saya mengikuti suami karena menghindari Long Distance Relationship seperti yang sebelumnya kami jalani di masa pacaran. Sebelumnya saya seorang guru honorer di salah satu Sekolah Menengah Kejuruan dan pengajar non-formal di salah satu tempat Bimbel. 

Sewaktu saya dan suami memutuskan untuk hidup bertiga ditanah perantauan,  awalnya berjalan baik-baik saja bahkan teramat baik, disamping itu saya juga belajar mandiri bagaimana merawat anak sendiri tanpa bantuan orang tua, mertua dan saudara-saudara terdekat lagi. Ketika itu saya jadi sering googling dan chatting dengan teman-teman dan kerabat perihal parenting demi mengusir kejenuhan saya juga sih. Kala itu saya tinggal disebuah kontrakan bedakan, daerah Batulicin,  Kalimantan Selatan,   yang notabene para penghuninya masih teman-teman kantor suami.  Beberapa diantara teman suami ada yang asli orang Bandung yang menikah dengan orang asli pribumi. Dan yang lainnya sesama perantau juga seperti dari jawa tengah dan jawa timur. Setelah beberapa bulan tinggal di Batulicin, suami dipindah tugaskan di daerah Kotabaru masih wilayah Kalimantan Selatan.  Di situlah saya dan suami lama hidup dan membesarkan sang buah hati. (Maaf ya Moooms cerita jadi panjang begini, kelamaan intro ihihi) .

Di Kotabaru kami tinggal di mess milik kantor suami untuk sementara waktu, yang menghuni mess tak hanya kami, ada beberapa teman kantor suami dari berbagai daerah, berbagai suku, bahkan orang Bandung pun ada. Jangan tanya ada anak-anak dalam mess ya,  jawabannya tidak ada sama sekali di awal saya dan suami menempati rumah mess, karena hanya kami yg baru berkeluarga.  Saya dan suami menjalani aktifitas seperti biasa, suami saya bekerja dan saya fokus mengurus anak, memasak,  yaaah seperti ibu-ibu rumah tangga lainnya.  Hanya saja ketika saya perhatikan anak saya di usianya yang ke satu tahun, Kiya belum lancar berjalan, beberapa anak teman saya ada yang sudah berdiri dan belajar melangkah sendiri, tapi hal itu saya tepis,  toh setiap perkembangan anak berbeda,  pasti akan ada waktunya jika sudah tepat waktu. Tapi saya tidak lepas dari menstimulasi perkembangannya. Sampai akhirnya di usia Kiya yang ke lima belalas bulan barulah bisa berjalan sendiri sedikit demi sedikit,  saya excited sekali kala itu dan percaya dengan dugaan saya.

Lalu, di usia Kiya yang ke dua tahun kurang (di pertengahan tahun 2015) saya heran.  Koq, ini anak kosakatanya sedikit bahkan jarang sekali ngomong jelas seperti 'susu', 'makan',  'pipis', kata-kata pertama Kiya adalah 'Ayah'.  Karena saya sering memanggil 'Ayah' kepada suami saya, atau mungkin kata 'Ayah: tidak begitu sulit untuk ditiru Kiya?,  kalaupun dipaksa ngomong pasti katanya terbalik atau berantakan,  seperti kata 'susu'  menjadi 'usus', dia kesulitan di huruf-huruf konsonan.  Yang bikin sedih lagi kalau dia ingin minum susu dia hanya bisa menangis, merengek,  tanpa menunjuk benda. Yang bisa dia lakukan sambil menarik-narik tangan saya. Sumpah Moms dari situ saya sering berpikir keras. Dari mana awal kesalahannya. Saya terus bertanya kepada diri saya sendiri pola asuh saya selama ini seperti apa, ini pasti ada yang salah. Lalu saya banyak bertanya sana sini.  Dan rata-rata menyarankan bahwa anak perlu bergaul dengan seusianya, atau bisa jadi ibunya kurang cerewet lah, ini lah,  itu lah,  bla bla bla.  Padahal saya kurang cerewet apaaa ya dirumah. Tapi saya kembali introspeksi diri,  mungkin bisa jadi saya kurang menstimulasi anak, atau bisa jadi kala itu saya lebih sering memberikan tontonan televisi yang sebetulnya kurang bagus untuk perkembangan anak,  ataukah mungkin faktor lingkungan yang orang-orangnya berbeda suku dan bahasa?

Waktu itu saya merasa seperti diberi PR besar dalam hidup saya. Tapi saya yakinnya setiap permasalahan pasti akan ada solusinya, akan ada jalannya,  penyelesaiannya. Tinggal bagaimana saya dan suami mengambil tindakan dan menyikapinya.
Jadi orang tua ternyata gak gampang dan bener-bener harus ekstra sabar ya Moms.

Kita bersambung dulu disini ya, masih banyak cerita yang ingin saya bagi disini.
Kalau ada sebagian parents yang mengalami hal sama,  boleh share sedikit pengalamannya disini yuk...

Komentar