Hai Parents... Hai Mamsss...
Sebagai lanjutan dari postingan sebelumnya, disini saya ingin berbagi mengenai tindakan saya dan suami selanjutnya dalam menangani keluhan anak. Saya dapat berbagi sedikit solusi atas berdasarkan pengalaman pribadi, dan saya yakin setiap kasus akan memiliki sisi penanganan yang agak berbeda.
Jujur Mams, saya itu orangnya baperan dan gak bisa diem. Tahu anak saya memiliki keterlambatan, setiap hari saya memikirkan bagaimana cara. Bukan bagaimana agar anak langsung normal, bukannya bagaimana Kiya agar bisa mengeluarkan kata yang jelas. Tapi bagaimana cara saya menstimulasi anak. Terus saya berpikir, dulu saya adalah seorang pengajar bahasa Inggris, saya mengingat kembali bagaimana saya mendapati siswa yang kesulitan belajar bahasa Inggris di kelas saya dan bagaimana kala itu saya menerapkan metode belajar kepada siswa agar siswa mampu menerima teori-teori yang saya berikan lalu ia mampu mempraktekannya, hingga berhasil. Kuncinya jelas Mams, ada di diri kita sendiri, begitu juga kepada anak saya, Kiya.
Pernah suatu malam saya menangis dihadapan suami saya ketika melihat Kiya mogok bersuara (mending Mams kalo dia mogok makan). Jangan tanya penyebabnya, saya tidak tahu sama sekali apa penyebabnya pada saat itu Kiya tidak mau bersuara sama sekali selama tiga atau empat hari, ah saya lupa. Tapi selang beberapa hari Kiya kembali berceloteh dengan bahasanya yang masih belum jelas. Dari situ, setiiiiiiap detik saya ekstra ngomong, televisi jarang saya nyalakan, bahkan sama suami sendiri saya banyak tanya, supaya anak saya selalu memperhatikan kami berkomunikasi. Sampai suatu saat saya coba latih Kiya lagi untuk menyebutkan siapa namanya. Saya ingin Kiya dapat merespon apa yang saya tanyakan padanya. Kira-kira begini :
"ini siapa namanya? " tanya saya sambil sentuh dadanya dengan tangan saya. Saya perhatikan terus kontak matanya, pada saat itu Kiya belum mengerti, lalu saya contohkan Kiya cara menjawab :" Khaaaaiiiira... " begitu kira-kira waktu itu. Saya lihat ada kontak mata. Karena yang paling penting dari komunikasi adalah adanya kontak mata. Dulu Kiya jarang sekali menunjukkan kontak mata dengan pembicara. Karena saya terus melakukan stimulasi-stimulasi itu, lambat laut Kiya menunjukkan kontak mata. Saya yakin jika sudah ada kontak mata, untuk merespon tidak akan lama lagi. Dan hari demi hari alhamdulillah kiya mampu menjawab pertanyaan saya walau menjawab dengan kata yang kurang jelas. Sudah merespon saja saya sudah bahagia bangetttt dan walau pertanyaan yang mampu Kiya respon adalah itu-itu saja. Saya jadi semakin yakin, jika detik itu saja anak saya mampu menunjukkan perubahan, artinya akan ada lagi perubahan-perubahan berikutnya. Saya yakin.
Gak sampai disitu. Suatu hari, saya dan kawan sesama orang tua di playgroup, Mama Erza, ijin bolos masuk kelas karena ingin menghadiri seminar gratis yang di selenggarakan oleh seorang ahli psikolog pendidikan anak, sebut saja Bpk. Yansyah, saya lupa nama panjangnya. Beliau tinggal di daerah Selokayang, Kotabaru. Tentunya saya dan Mama Erza antusias banget untuk menghadiri seminar itu. Ketika menghadiri acara seminar, kelihatannya Pak Yansyah ini cukup profesional, orang nya terlihat humble dan komunikatif. Penyampaian-penyampaian yang beliau berikan pun cukup dimengerti, beliau juga sempat memberikan tips dan trik kepada orang tua dalam menyikapi anak. Khususnya anak-anak yang mengalami kasus seperi Kiya. Saya lupa judul seminar beliau saat itu. Untungnya beliau memberikan kartu nama jika kita ingin berkonsultasi.
Selesai dari acara seminar tersebut, saya ngobrol dengan suami, gimana kalau kita coba konsultasi dengan Pak Yansyah. Untungnya suami setuju. Kalau tidak salah, beberapa hari kemudian saya dan suami akhirnya pergi mencari alamat Pak Yansyah, tidak begitu sulit menemukan alamatnya. Sudah bertemu dengan Pak Yansyah dikediamannya yang sekaligus tempat prakteknya, saya curahkan semua kekhawatiran saya sebagai orang tua melihat kondisi anak yang bicaranya agak telat dan agak hiperaktif. Lalu Pak Yansyah merumuskan dan memberikan arahan pada kami, ketika beliau menjelaskan, Kiya saat itu tidak bisa diam sama sekali, dia mengamuk dan teriak ketika kita cegah dan larang, karena khawatir jatuh atau kabur keluar ruangan, tapi Pak Yansyah santai saja, beliau menyuruh kami untuk membiarkannya asal diawasi saja. Dan ketika Pak Yansyah mennjukkan mainan kayu dan beberapa kayu-kayu berbentuk huruf, Kiya tidak tertarik sama sekali, Mams. Saya cuma bisa berkata dalama hati 'sudah kuduga' 😅.
Oke, dalam penjelasan Pak Yansyah saat itu, bahwa Kiya memang mengalami SPEECH DELAY dan sebetulnya tidak perlu penanganan terapi sama sekali. Nah lho, saya sempat mikir disitu, se-simple itu kah? Saya yang tadinya sudah mikir macam-macam soal penanganan untuk Kiya, dan Beliau hanya menerangkan bahwa Kiya tidak perlu di terapi, bla.. Bla.. Bla.... Kiya hanya butuh stimulasi ekstra.. Ekstra... Dan ekstra... Dari kami, orang tuanya, diruuuumah. Dan satu lagi Beliau menjelaskan bahwa seandainya kami sementara waktu tinggal di tempat asal kami (di Bandung) biasanya akan memudahkan perkembangannya nanti. Well, sebenarnya saya aga kurang yakin, entah karena saran yang diberi Pak Yansyah terlalu simple, atau saya dan suami yang kurang santai. Tapi keterangan-keterangan dari Beliau cukup memantapkan saya untuk menyikapi hal itu kedepannya. Tinggal saya dirumah berjuang untuk menstimulasi anak agar perkembangannya setara dengan anak-anak seusianya.
Sekolah Kiya tetap berlanjut seperti biasa, dan Kiya sudah mulai terbiasa masuk berlama-lama didalam kelas, sudah mendingan mau ikut pelajaran menggambar, menempel, melukis, hanya saja Kiya tidak bisa duduk berlama-lama pada satu kegiatan, Kiya ini tipe gak sabaran, cepat bosan, butuh kegiatan menantang adrenalin sepertinya. Tapi nggak apa-apa saya sudah sangat bersyukur Kiya mau sedikit demi sedikit mengikuti kegiatan sekolah. Beberapa hal yang sulit hilang adalah, Kiya masih takut didekati teman seusianya maupun yang lebih besar darinya. Hanya teman-teman tertentu yang tidak Kiya takuti.
Waktu itu, Saya sempat berpikir apakah saya dan anak menetap sementara waktu di Bandung. Saya sempat sering membicarakan hal ini dengan suami dan suami tak pernah memaksa, apalagi ini menyangkut anak, ia setuju saja jika saya ingin menetap di Bandung untuk sementara waktu. Saya benar-benar dilema saat itu, disamping saya sudah nyaman ikut suami merantau, di lain hal anak saya tidak akan berkembang baik jika dalam kondisi monoton seperti itu, anak saya perlu situasi baru. Allah benar-benar sedang melatih saya untuk sabar.
*bersambung....
Komentar
Posting Komentar